Cinta: Syarat Wajib Guru di Era Pendidikan 4.0 / Artikel Naik Koran 2019
CINTA: SYARAT WAJIB GURU DI ERA PENDIDIKAN 4.0
|
Siti Nur Aisyah,S.Pd.,M.S.A (Guru
SMKN 3 Sumbawa)
|
Pendidikan 4.0
yang telah banyak diterapkan pada perguruan tinggi. Sudah sepatutnya mengalir
dan dapat diterapkan pada pendidikan jenjang dasar dan menengah. Dalam Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 dengan jelas dinyatakan bahwa
Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada
nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan
perubahan zaman.
Berakhir dengan
kata tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman menjadikan adanya keharusan
pendidikan beradaptasi terhadap era revolusi 4.0. Bentuk dari adaptasi inilah yang disebut dengan Era pendidikan 4.0. Pendidikan yang memiliki ciri pemanfaatan
teknologi digital dalam proses pembelajarannya. Sementara guru berdasarkan UU
Nomor 14 tahun 2005 diartikan sebagai pendidik professional yang tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Penjelasan tersebut memberikan pemahaman
bahwa guru adalah seorang sutradara dengan multijob
untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.
Kemampuan guru
dalam melaksanakan multijob di era
pendidikan 4.0 merupakan suatu pekerjaan yang cukup menantang dan melelahkan.
Maka, diperlukan suatu strategi atau suplemen khusus untuk dapat menjalanakan era pendidikan 4.0
menjadi lebih mudah. Salah satu strateginya adalah menjadikan Cinta sebagai
syarat wajib guru saat ini. Cinta merupakan singkatan dari Cerdas,
Inovatif, Nasionalis, Tantangan,
dan Aktual.
Cerdas, merupakan salah satu bentuk skill yang sepatutnya melekat pada diri
seorang guru. Diperlukan ketajaman dalam
berpikir untuk mampu memberikan bimbingan kepada peserta didik. Karena saat ini
yang sering terjadi adalah peserta didik lebih percaya pada kemampuan mesin
pencarian instan (internet) untuk menggali pemahaman. Maka dari pada itu, guru
cerdas harus mampu memberikan bimbingan terhadap penggunaan informasi yang
positif. Menjalin komunikasi yang efektif, menyisipkan pendidikan karakter yang
arif sehingga tidak lagi fokus pada pengetahuan yang didapatkan oleh peserta
didik. Keberhasilan pendidikan karakter yang tertanam pada peserta didik
merupakan keberhasilan seorang guru yang tidak hanya pandai dalam mengajar dan
mendidik tetapi juga cerdas dalam memahami situasi dan kondisi dalam memilih
berbagai alternatif pembelajaran.
Inovatif. Dunia pendidikan akan selalu berkembang mengikuti perubahan zaman.
Guru yang memiliki jiwa perubahan adalah guru yang inovatif. Ruang gerak bagi
seorang guru dalam berinovasi sangatlah luas. Berbagai teori penelitian yang
memihak pada eksistensi guru dalam pembelajaran bergerak sangat cepat.
Penelitian tindakan kelas, eksperimen kelas, bahkan penelitian pengembangan (research development) tidak memberi batasan seorang guru untuk
berinovasi dalam mencapai tujuan pendidikan. Inovasi metode, alat, media, dan
model pembelajaran merupakan hal yang sangat efektif untuk diterapkan pada era
pendidikan 4.0. Maka dari itu guru memiliki kewajiban untuk selalu berinovasi
dalam proses pembelajaran.
Nasionalis, memiliki arti memiliki rasa cinta terhadap nusa dan
bangsa. Guru adalah sosok yang melekat dengan selogan “ing ngarsa sung tuladha” (kutipan dari Ki Hajar Dewantara) yang
artinya guru menjadi contoh atau keteladan bagi peserta didik. Terkait dengan
jiwa nasionalis, guru dapat menjalankan tujuan pendidikan dengan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya
yaitu manusia yang beriman bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti
luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan , kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan
kebangsaan. Kata terakhir dalam tujuan ini adalah kebangsaan. Sementara
nasionalis dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan pencinta terhadap
bangsa. Maka, kaitan antara guru yang mempunyai jiwa nasionalis dengan
menunjukkan perilaku dan contoh sebagai teladan bagi para peserta didik, maka
termasuk dalam bentuk upaya dalam menwujudkan pendidikan nasional.
Tantangan. Era revolusi 4.0 menanamkan teknologi cerdas yang dapat terhubung
dengan berbagai kehidupan manusia. Peserta didik saat ini telah menjadi
individu penikmat teknologi. Untuk itulah diperlukan adanya seorang guru yang
mampu tertantang dalam iklim yang sedang digemari oleh peserta didik. Guru yang
menyukai tantangan terhadap perkembangan zaman akan mempunyai jiwa pembelajar
yang tinggi. Jiwa pembelajar inilah yang
akan menghantarkan kesuksesan pola pembelajaran dengan upaya menarik perhatian
bagi para peserta didiknya.
Aktual. Era Pendidikan 4.0 mengharuskan
guru mengupdate pengetahuan dan
pemahaman terhadap kebutuhan materi. Sangatlah tidak mungkin Era pendidikan 4.0
akan berhasil apabila guru tidak mengupgrade
profesinya menjadi guru 4.0. Kebaruan informasi dan teknologi yang diterima
oleh seorang guru dapat menghidupkan suasana belajar. Peserta didik akan merasa
dihargai dan merasakan suasana kehidupannya diruang belajar yang mereka miliki.
Kesepahaman antara kemauan peserta didik dan guru yang terjalin dalam suasana
pemebelajaran menyenangkan dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap
suksesnya pendidikan.
Oleh karena itu
penulis mengharapkan guru di Kabupaten Sumbawa khususnya dan NTB pada umumnya
mampu menjadikan CINTA menjadi bagian kehidupan profesionalitas pendidik di Era
pendidikan 4.0 demi terciptanya lulusan yang kompeten dan siap menghadapi Era
Revolusi Industri 4.0 serta dalam perkembangan nantinya.(AIS)
Komentar
Posting Komentar